22 Sep 2010

Konflik dalam Organisasi

Definisi konflik:
  • situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang di antara beberapa orang, kelompok, atau organisasi.
  • sikap saling mempertahankan diri sekurang-kurangnya di antara dua kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan berbeda, dalam upaya mencapai satu tujuan sehingga mereka berada dalam posisi oposisi, bukan kerjasama.
Aspek positif dalam konflik:

Konflik bisa jadi sumber energi dan kreativitas yang positif lho, apabila dikelola denngan baik. Misalnya, konflik dapat menggerakkan suatu perubahan:


  • membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
  • memberikan saluran baru untuk komunikasi.
  • menumbuhkan semangat baru pada staf.
  • memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.
  • menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.
Apabila konflik sudah mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam organisasi, baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif berupa demonstrasi.


Penyebab konflik

Konflik bisa berkembang karena berbagai sebab, misalnya:
  1. Batasan pekerjaan yang tidak jelas.
  2. Hambatan komunikasi.
  3. Tekanan waktu
  4. Standar, peraturan, dan kebijakan yang tidak masuk akal.
  5. Pertikaian antar pribadi.
  6. Perbedaan status.
  7. Harapan yang tidak terwujud.

Mengelola konflik

Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan 4 hal:
  1. Disiplin. Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik.
  2. Memanfaatkan pengalaman sesuai dengan jenjang kehidupan seseorang.
  3. Komunikasi yang baik
  4. Mendengarkan secara aktif
Ada 9 Teknik mengelola konflik yang akan dijelaskan di bawah ini.

Teknik 1: Ajak orang-orang yang terlibat dalam konflik pada tujuan yang lebih tinggi. Jika satu bagian berkonflik dengan bagian lainnya, ajaklah mereka untuk melihat tujuan organisasi yang lebih besar, maka mereka cenderung untuk berpikir lebih jernih.

Teknik 2: Memperluas sumber daya yang ada. Konflik bisa terjadi karena keterbatasan/kelangkaan sumber daya yang dibutuhkan banyak orang. Misalnya hanya ada 1 saluran telepon untuk 2 bagian. Ketika mereka akan menggunakannya, mereka saling berebut. Cara mengelola konfliknya adalah menambah saluran telepon. 

Teknik 3: Penghindaran. Ini yang sering dilakukan orang pada umumnya. Daripada ribut dan berkonflik terus dengan tetangganya, orang itu kemudian menghindar dan berusaha tidak bertemu dengan tetangganya. Ini bukanlah cara mengelola konflik yang efektif, namun kadang dengan penghindaran, pihak yang ingin berkonflik menjadi berkurang 'semangat' untuk berkonfliknya.

Teknik 4: Mencari titik temu. Ketika Anda sebagai pemimpin menemui orang yang berkonflik, Anda dapat menggunakan teknik ini. Teknik ini berusaha mencari persamaan yang ada di antara pihak-pihak yang berkonflik, sekaligus memperkecil perbedaan yang ada. Contoh, ada konflik antara bagian pemasaran dan produksi. Daripada berdebat tentang perbedaan fungsi kedua bagian itu, menejemen konflik dapat mencari persamaan kedua bagian itu. Misalnya, keduanya sama-sama menjalankan fungsi yang penting dalam perusahaan, karena tanpa keduanya perusahaan tidak akan bisa berjalan.

Teknik 5: Kompromi. Ketika Anda melakukan kompromi terhadap pihak-pihak yang berkonflik, masing-masing pihak mungkin tidak merasa puas terhadap keputusan tersebut. Namun manajemen konflik ini efektif jika topik/barang yang dikonflikkan bisa dibagi secara adil.

Teknik 6: Menggunakan power/kekuasaan. Ini merupakan cara mengelola konflik yang paling kuno. Ketika orang yang berkonflik tidak mau menyudahi konfliknya, sebagai pemimpin Anda gunakan kekuasaan Anda untuk menyudahi konflik itu. Walaupun mereka tidak puas, namun karena mereka adalah bawahan Anda, mau tidak mau mereka harus patuh kepada Anda.

Teknik 7: Mengubah sifat-sifat orang yang berkonflik. Mengubah sifat orang sangatlah sulit. Namun ini merupakan manajemen konflik yang efektif untuk jangka panjang. Contoh, di kantor Anda sering dijumpai karyawan yang sering bertengkar dengan karyawan lainnya. Sebagai atasannya, Anda ajak pelan-pelan karyawan tersebut untuk mengubah perilakunya. Dengan sabar Anda bimbing karyawan itu, dan akhirnya, ia mampu menjadi karyawan yang baik. Ketika karyawan itu sudah berubah sifatnya, konflik yang terjadi akan sangat berkurang.

Teknik 8: Mengubah struktur. Contoh, bagian pemasaran mengeluhkan betapa sulitnya menjual produk karena disainnya jelak dan kualitasnya meragukan. Keluhan itu ditanggapi oleh bagian produksi dengan alasan tidak ada masukan dari bagian pemasaran, serta adanya pemotongan anggaran produksi besar-besaran oleh bagian keuangan. Agar bagian produksi dan bagian pemasaran tidak saling berkonflik, Anda dapat menggabungkan kedua bagian itu di abwah satu departemen. Sekali  lagi contoh ini hanya untuk ilustrasi saja, agar lebih mudah dipahami, dan bukan 'resep' yang harus diikuti secara membabi buta.

Teknik 9: Menciptakan musuh bersama. Agar mereka tidak saling konflik, cipatakanlah musuh bersama yang akan membuat mereka bersatu untuk menghadapinya. Musuh ini dapat berupa pesaing agresif yang harus dihadapi dengan bersatu, dan bukannya dengan terpecah belah seperti sekarang. Musuh 'ciptaan' ini juga dapat berupa kunjungan pimpinan puncak ke bagian itu, dan lain sebagainya.

Selain 9 teknik mengelola konflik di atas, juga ada 5 strategi menghadapi konflik, yaitu:
  1. Menghindar. Menghindari konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer yang terlibat dalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan, 'biarlah kedua pihak yang berkonflik mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi", misalnya.
  2. Mengakomodasi. Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan.
  3. Kompetisi. Gunakan strategi ini jika Anda yakin  bahwa Anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibandingkan orang lain, atau Anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai Anda. Strategi ini mungkin bisa memicu konflik baru, atau mempertajan konflik yang ada, tetapi bisa jadi merupakan strategi yang penting untuk alasan-alasan keamanan.
  4. Kompromi atau negosiasi. Masing-masing pihak memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaam, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.
  5. Memecahkan masalah atau Kolaborasi. Pemecahan win-win solution di mana individu yang terlibat mempunyai tujuan yang sama. Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lain.
Demikian sharing yang bisa saya berikan dalam postingan kali ini, semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar